Bapak yang satu ini memang tak gak ada kapoknya. Masih saja mencoba
membeberkan fakta yang sudah jelas dan tidak mungkin tidak. Mari kita
bahas lebih lanjut. Beliau berkomentar tentang kualitas kompetisi LSI (maaf kenapa
sekarang nyebutnya LSI? kan jelas-jelas tulisannya ISL?). Menurutnya,
LSI merupakana kompetisi yang kompetitif dan mampu menciptakan pemain
unggulan untuk membela timnas Indonesia.
Hampir-hampir mati ketawa, kok ada ya orang kayak gini? beliau
menyebutkan 3 faktor. “Pertama, faktor trust (kepercayaan): Setiap pekan, ratusan ribu
penonton dan supporter tetap berbondong-bondong ke stadion dan jutaan
pasang mata duduk di depan televisi karena mereka percaya
pertandingan-pertandingan berjalan fair dan kompetitif termasuk para
sponsor, mitra kerja,”
Ya memang semua orang akan berbondong-bondong datang ke stadion untuk
menonton pertandingan. Karena mereka adalah suporter fanatik dan sepak
bola adalah tontonan menarik. Namun jika ada pertandingan lain yang
lebih menarik, Liga Inggris Contohnya. Pasti mereka memilih untuk
melihat pertandingan tersebut. Karena lebih menarik. “Kedua, faktor Kualitas Timnas dan Lahirnya Bintang Sepakbola: Sebuah
fakta di depan kita bahwa pemain sepakbola kini menjadi perbincangan
yang menarik sampai dengan tim nasional Piala AFF 2010 ini bukanlah
datang tiba-tiba, tapi berproses dari klub dan kompetisi,”
Soal faktor kualitas, masih buruk. Seharusnya Nurdin berkaca, lupa ya
kalau kemarin kita mengundang Uruguay untuk bertanding lawan timnas
kita kalah memalukan. Jadi jika belum bisa menembus Piala Dunia jangan
bilang bahwa kualitas kita sudah bagus. Lagipula jika memang kualitas
kompetisi kita bagus kenapa mengirim tim SAD ke Uruguay? katanya
kompetisi ISL bagus? “Sudah lama Bambang Pamungkas, Markus Harison, Firman Utina, dan
Cristian Gonzales menjadi bintang sepakbola Indonesia di level klub
dan kompetisi. Munculnya bintang-bintang baru seperti Okto Maniani,
Nasuha, Bustomi, Yongki Aribowo membuktikan betapa kompetisi kita
(LSI) bermutu, kompetitif, dan fair sehingga mampu melahirkan
bintang-bintang baru,”
Untuk komentar ketiga saya hanya mengomentari “jika kompetisi kita
bermutu, kompetitif, dan fair” kenapa banyak klub yang
berbondong-bondong pindah ke LPI ya? Nama pemain-pemain diatas adalah
bintang sepak bola “Indonesia” bukan “Internasional”. “PSSI tidak memberikan persetujuan dan pengakuan kepada LPI (Liga
Primer Indonesia) bukan karena faktor suka dan tidak suka melainkan
kegiatan tersebut bertentangan dengan Visi dan Misi PSSI dan FIFA.
Yang menganut prinsip Authenticity (keaslian), Unity (kesatuan),
Performance (tampilan kinerja), Integrity (keutuhan),”
Untuk komentar yang ini sebenarnya agak aneh, karena semua yang
disebutkan oleh Nurdin tidak satupun yang dilanggar LPI.
Posted via email from Mozz Journal | Comment »