Text

Kurang “Rich” Editornya

Sepertinya tumblr ini kurang banget fitur “rich editor“-nya. Untuk menyertakan gambar masih menggunakan cara lama. Seharusnya fitur-fitur semacam ini sudah ada dan berjalan bagus di blog semacam ini.

Well, semoga developer mendengar keluhan user-nya ini :)

Text

Menyelami Konsentrasi

Banyak isu-isu tentang kemajuan perusahaan tempat saya bekerja saat ini yang terus disiarkan. Kecepatan pengerjaan proyek, kualitas hasil akhir, dan lain sebagainya. Sering pula dipertanyakan “apa sih yang bisa buat kalian bisa deliver bagus”. Tentu saja saya jawab “saya belum tahu pak”.

Jawaban yang sangat tidak diharapkan oleh semua pimpinan yang ada di dunia ini. Tapi mau bagaimana lagi, saya sendiri juga sering berpikir tentang itu. Hampir tiap jam, menit, hingga detik saya pikirkan hal itu.

Setelah mencoba menyelami diri, saya merasa bahwa semua ini bermula dari “KONSENTRASI”. Sering kali saya merasa tidak berada dalam konsentrasi penuh, kalaupun konsentrasi terkadang saya merasa terlalu nyaman hingga tidak memperdulikan waktu. Mungkin inilah penyebab dari keterlambatan, ketidak sempurnaan, banyaknya daftar revisi.

Rasanya harus ada sebuah penyelesaian untuk ini. Bekerja “smart”, “efisien”, dan tidak membuang-buang waktu. Sedang dalam proses ini. Mungkin lain waktu akan terpecahkan masalah ini

Text

Mari Tata yang Rapi

Harus banyak berpikir ulang, semuanya kacau. Soal kualitas, mungkin apa yang kami buat adalah kw3. Sama sekali tidak menunjukan sebuah perusahaan bonafit, timing yang berantakan, hasil yang “crapy”, banyaknya daftar revisi. Seharusnya semua itu tidak terjadi dan tidak ada dalam daftar development.

Saya mencoba membuat sebuah analisis, apa yang sedang terjadi dengan perusahaan kami? Salah sistem kah? Perjalan informasi yang tak sampai kah? Transfer ilmu yang kurang kah? Atau memang kami yang tak mampu di bidang ini?

Jika semua sesuai, seharusnya framework yang kita buat akan seperti pabrik. Tempel modul A, tempel modul B, tempel modul C, dan selesai. Itu yang seharusnya terjadi, dan tidak memakan banyak waktu. Layaknya pabrik baju, yang membuat bagian-bagiannya sendiri.

Jadi, tampaknya perlu dipikirkan ulang tentang bagaimana cara yang tepat dalam produksi situs yang efisien.

Text

We proud of Indonesia

Jepang punya aliran musik sendiri yang mereka sebut JRocks, JPop. Begitu pula dengan Korea dengan KPop-nya. British dengan BritRocknya.

Indonesia tak mau kalah dengan “phone”-nya, Lho? Indonesia punya “phone”. Ternyata hal ini tidak disadari oleh bangsa kita sendiri. Yap, Indonesia punya phone namanya “iPhone”, dan punya tab namanya “iPad”.

Text

Change Color to Chrome

Maybe, now is the time for change my orange color to “chrome”. I hate the orange one, because it’s slowly, used much memory until my mac freeze. The all of my color now is “Chrome”. I change my blog name too “My Color is Chrome” :)

Text

Tips Email/Surel Untuk UKM

Email/Surel saat ini penting sekali keberadaannya. Kegiatan surat menyurat sudah lama ada dan sekarang sudah banyak yang beralih dari surat-menyurat konvensional dengan menggunakan surat elektronik atau surel walaupun surat-menyurat konvensional tetap tidak ditinggalkan karena dianggap lebih resmi. Jadi untuk seorang yang ingin mengembangkan usahanya, wajib untuk memiliki sebuah surel. Karena di dunia maya ini (internet) tidak ada batasan wilayah untuk melakukan order. Layanan surel sendiri terdiri dari banyak layanan, dari yang gratis hingga yang berbayar, semua ada. Saya akan memberikan sebuah tips untuk membuat alamat surel dan sedikit cara mengelolanya.

  1. Cari tahu spesifikasi kebutuhan yang anda butuhkan.
  2. Setelah tahu, tentukan surel jenis apa yang akan digunakan.
  3. Untuk sebuah UKM saya menyarankan untuk menggunakan layanan surel yang gratis, perusahaananda@yahoo.com/perusahaananda@gmail.com.
  4. Jika sudah berkembang, pikirkan untuk membuat sebuah situs dengan menggunakan domain, www.perusahaananda.com
  5. Setelah memiliki sebuah domain gunakanlah layanan surel “gratis” namun menggunakan domain anda, supaya lebih terlihat profesional.
  6. Layanan ini diberikan oleh “google apps” untuk bisnis kecil dan menengah. Tentu saja fitur tidak selengkap dan sebagus yang berbayar tetapi sudah cukup untuk kalangan menengah.
  7. Dengan menggunakan layanan ini, maka akan terlihat sebagai berikut. namaanda@perusahananda.com, info@perusahaananda.com, dll.
  8. Dengan menggunakan layanan seperti itu maka perusahaan anda juga akan beranjak menjadi lebih profesional.
  9. Ini yang biasanya terjadi, jarang orang Indonesia untuk mengelola surelnya. Akhirnya surel jadi kadaluarsa dan tak terurus. Setidaknya untuk sebuah perusahaan, surel harus terurus. Jadwalkan untuk backup surel, masuk dan melihat surel, dsb.
  10. Usahakan untuk memiliki surel lebih dari satu, hal ini digunakan untuk membackup surel satu sama lain, jika terjadi apa-apa dengan server surel ataupun kehilangan kata sandi. Maka surel dapat mengirimkan kata sandi pada surel yang lupa kata sandinya.

CMIIWbest regards,
Yudhi

Posted via email from Mozz Journal | Comment »

Text

Nurdin Bicara Saya Komentar

Bapak yang satu ini memang tak gak ada kapoknya. Masih saja mencoba
membeberkan fakta yang sudah jelas dan tidak mungkin tidak. Mari kita
bahas lebih lanjut. Beliau berkomentar tentang kualitas kompetisi LSI (maaf kenapa
sekarang nyebutnya LSI? kan jelas-jelas tulisannya ISL?). Menurutnya,
LSI merupakana kompetisi yang kompetitif dan mampu menciptakan pemain
unggulan untuk membela timnas Indonesia.

Hampir-hampir mati ketawa, kok ada ya orang kayak gini? beliau
menyebutkan 3 faktor. “Pertama, faktor trust (kepercayaan): Setiap pekan, ratusan ribu
penonton dan supporter tetap berbondong-bondong ke stadion dan jutaan
pasang mata duduk di depan televisi karena mereka percaya
pertandingan-pertandingan berjalan fair dan kompetitif termasuk para
sponsor, mitra kerja,”

Ya memang semua orang akan berbondong-bondong datang ke stadion untuk
menonton pertandingan. Karena mereka adalah suporter fanatik dan sepak
bola adalah tontonan menarik. Namun jika ada pertandingan lain yang
lebih menarik, Liga Inggris Contohnya. Pasti mereka memilih untuk
melihat pertandingan tersebut. Karena lebih menarik. “Kedua, faktor Kualitas Timnas dan Lahirnya Bintang Sepakbola: Sebuah
fakta di depan kita bahwa pemain sepakbola kini menjadi perbincangan
yang menarik sampai dengan tim nasional Piala AFF 2010 ini bukanlah
datang tiba-tiba, tapi berproses dari klub dan kompetisi,”

Soal faktor kualitas, masih buruk. Seharusnya Nurdin berkaca, lupa ya
kalau kemarin kita mengundang Uruguay untuk bertanding lawan timnas
kita kalah memalukan. Jadi jika belum bisa menembus Piala Dunia jangan
bilang bahwa kualitas kita sudah bagus. Lagipula jika memang kualitas
kompetisi kita bagus kenapa mengirim tim SAD ke Uruguay? katanya
kompetisi ISL bagus? “Sudah lama Bambang Pamungkas, Markus Harison, Firman Utina, dan
Cristian Gonzales menjadi bintang sepakbola Indonesia di level klub
dan kompetisi. Munculnya bintang-bintang baru seperti Okto Maniani,
Nasuha, Bustomi, Yongki Aribowo membuktikan betapa kompetisi kita
(LSI) bermutu, kompetitif, dan fair sehingga mampu melahirkan
bintang-bintang baru,”

Untuk komentar ketiga saya hanya mengomentari “jika kompetisi kita
bermutu, kompetitif, dan fair” kenapa banyak klub yang
berbondong-bondong pindah ke LPI ya? Nama pemain-pemain diatas adalah
bintang sepak bola “Indonesia” bukan “Internasional”. “PSSI tidak memberikan persetujuan dan pengakuan kepada LPI (Liga
Primer Indonesia) bukan karena faktor suka dan tidak suka melainkan
kegiatan tersebut bertentangan dengan Visi dan Misi PSSI dan FIFA.
Yang menganut prinsip Authenticity (keaslian), Unity (kesatuan),
Performance (tampilan kinerja), Integrity (keutuhan),”

Untuk komentar yang ini sebenarnya agak aneh, karena semua yang
disebutkan oleh Nurdin tidak satupun yang dilanggar LPI.

Posted via email from Mozz Journal | Comment »

Text

PSSI Seperti Anak Kecil

Geram dengan sikap PSSI, masih saja dengan pendiriannya dengan tidak mengakui LPI. Bahkan bak kebakaran jenggot, mereka “WADUL”(mengadu) ke bapaknya (FIFA) untuk minta bantuan. Sungguh-sungguh perbuatan yang aneh, padahal permasalahannya hanya perlu mengakui LPI sebagai kompetisi tetapi masih saja tidak mau.
Mereka selalu berlindung dibalik undang-undang dan statuta FIFA untuk menjegal LPI. Padahal banyak dukungan dari berbagai lapisan masyarakat untuk LPI. Tampaknya memang perlu direformasi tubuh dari PSSI ini. Sungguh-sungguh tak sehat organisasi ini.

Posted via email from Mozz Journal | Comment »

Text

Demam Naturalisasi

Lekat sekali diingatanku, saat Singapura juara piala Tiger (sekarang AFF) 2004 mengalahkan Indonesia. Mereka memainkan banyak pemain naturalisasi, walaupun ada beberapa pemain lokal yang juga berkualitas. Saat itu Indonesia tidak latah menaturalisasi pemain seperti negara-negara lain. Indonesia tetap teguh dengan pemain-pemain lokal binaan dari klub-klub lokal, saat itu sang pelatih adalah Peter Withe. Tahun lalu lebih tepatnya 1 bulan yang lalu, piala AFF kembali digelar. Indonesia dengan pemain “naturalisasi”-nya (sebenarnya bukan karena mereka sudah memegang paspor Indonesia sebelum dipanggil timnas) berhasil mencapai partai final melawan Malaysia. Sebelum ke Final, Indonesia menghadapi Filipina yang juga menggunakan pemain naturalisasi sebanyak 9 orang. Tetapi Indonesia lebih beruntung karena Indonesia bisa memenangkan pertandingan ini. Namun di final Indonesia harus mengakui kehebatan Malaysia dengan kalah agregat 4-2 untuk Malaysia.

Semenjak euforia tersebut, PSSI semakin latah untuk merekrut pemain naturalisasi terutama pemain-pemain muda. Sejak Sabtu kemarin beberapa pemain “asing” diundang untuk ikut seleksi timnas SEA Games serta pra Olimpiade. disamping membanggakan tapi disatu sisi merasa seperti bukan jati diri. Bukan bermaksud menyalahkan mereka yang mengikuti seleksi, tetapi PSSI cenderung ingin mendapatkan pemain secara “Instan” tidak melalui pembinaan yang panjang. Saya yakin bahwa jika melalui pembinaan yang berkelanjutan, Indonesia bisa ikut dalam ajang Piala Dunia. Seharusnya Indonesia mulai berkaca pada negara tetangga Malaysia yang membina pemain-pemain mudanya. Kualitas pemain lokal juga tidak kalah dibanding pemain-pemain naturalisasi. Agak aneh juga jika melihat timnas berisi pemain-pemain yang tidak biasa kita lihat di liga lokal. Mungkin 1-3 pemain naturalisasi sudah cukup, dan tentunya dengan niat yang benar-benar tidak setengah-setengah seperti 2 pemain yang berlaga untuk Indonesia kemarin (mereka berjuang sungguh-sungguh untuk dapat masuk timnas).

Posted via email from Mozz Journal | Comment »

Text

Perdana LPI

Hari Sabtu tanggal 8 Januari 2011 adalah hari bersejarah bagi LPI, karena pada hari itu adalah hari pembuakaan LPI. Ribuan penonton memadati stadion Manahan Solo.Pembukaan kemarin juga menyuguhkan tari-tarian daerah. Sungguh “Ciamik Soro” pembukaan kemarin. Disamping itu, banyak pejabat pemerintah yang turut hadir diantaranya adalah Anas Urbaningrum ketum Demokrat, lalu pengusaha Arifin Panigoro yang sekaligus sebagai penggagas LPI, serta beberapa orang penting lainnya. Tidak ketinggalan pula kekasih Irfan Bachdim yang juga kakak dari Kim Jefry Kurniawan, Jeniffer Kurniwan.

Laga pembuka dipertandingkan 2 kesebelasan Persema Malang melawan Ksatria XI (Solo FC). Dalam pertandingan kali ini sangat kentara kelas mereka masing-masing. Persema menang 5-1 atas Ksatria XI. Dua diantaranya dicetak oleh Irfan Bachdim dan menjadi Top Skor sementara LPI dengan koleksi 2 golnya. Semoga euforia ini tidak berhenti tengah jalan dan akan berlangsung terus menjadi liga yang lebih profesional dan lebih mandiri tanpa mengandalkan APBN/APBD. Maju terus LPI.

Posted via email from Mozz Journal | Comment »